5 Cara Menyikapi Sikap Pesimis Karyawan agar Tetap Produktif di Tempat Kerja
Dalam dunia kerja, kita tidak hanya bertemu karyawan yang penuh motivasi. Ada juga yang tampak pesimis, merasa ragu, takut gagal atau kehilangan keyakinan terhadap tugas yang diberikan.
Sikap pesimis ini tidak selalu muncul karena ketidakmampuan, tetapi sering dipengaruhi pengalaman, tekanan, atau lingkungan kerja yang kurang mendukung. Jika tidak ditangani, pesimisme dapat menurunkan performa, menghambat kolaborasi, bahkan menular ke anggota tim lain.
Sebagai pemimpin atau bagian dari tim L&D, memahami cara menyikapi sikap pesimis ini menjadi sangat penting. Tujuannya bukan untuk menghakimi, tetapi membantu mereka kembali percaya pada kemampuan diri dan kondisi kerja.
Langkah Menyikapi Sikap Pesimis Karyawan
Berikut lima langkah yang bisa kita terapkan dalam menghadapi karyawan yang cenderung pesimis:
1. Mengidentifikasi Penyebab Sikap Pesimis dengan Empati
Sebelum memberikan solusi, kita perlu memahami penyebab pesimisme tersebut. Tidak semua orang pesimis karena tidak mampu. Ada yang merasa tidak didengar, terlalu sering gagal, atau tidak memiliki role model yang dapat dipercaya. Dengan memahami penyebabnya, kita dapat menyesuaikan pendekatan.
Misalnya, seorang karyawan yang tampak pesimis terhadap proyek mungkin sebenarnya merasa tidak memiliki cukup informasi atau terlalu terbebani deadline.
Pendekatan dengan langkah yang mengedepankan empati membuat mereka merasa aman untuk berbicara secara terbuka.
2. Memberikan Arahan dan Tujuan yang Jelas
Karyawan yang pesimis sering merasa bingung atau tidak memahami peran mereka dalam proyek. Ketidakjelasan inilah yang membuat mereka ragu dan kehilangan keyakinan. Dengan memberikan arahan yang jelas, pesimisme dapat berkurang secara signifikan.
Sebagai contoh, dalam sebuah meeting, leader dapat menjelaskan tujuan, timeline, dan harapan secara terstruktur agar karyawan memahami perannya dan tahu langkah apa yang harus dilakukan. Kejelasan ini membantu mereka mengurangi rasa takut dan meningkatkan rasa percaya diri.
3. Memberikan Feedback yang Membangun dan Realistis
Feedback yang baik dapat menjadi penguat bagi karyawan yang pesimis. Fokuskan feedback pada tindakan yang bisa diubah, bukan pada karakter pribadi seseorang. Pendekatan ini lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan konflik.
Contohnya, daripada mengatakan, “Kamu terlalu pesimis,” lebih baik memberikan feedback, seperti, “Presentasimu sudah baik, akan lebih baik jika kamu tambahkan data pendukung.”
Feedback yang membangun membuat karyawan merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berkembang.
4. Memberikan Dukungan Melalui Pendampingan atau Mentoring
Kadang, karyawan pesimis hanya membutuhkan seseorang yang bisa membimbing mereka. Pendampingan membuat mereka merasa tidak sendirian dalam mengerjakan tugas. Inilah peran penting mentoring atau coaching dalam corporate training.
Misalnya, leader dapat menunjuk rekan senior untuk membantu karyawan baru dalam memahami alur kerja, membangun kebiasaan produktif, dan meningkatkan kepercayaan diri. Dengan pendampingan yang tepat, pesimisme perlahan berubah menjadi motivasi.
5. Membangun Lingkungan Kerja yang Positif dan Suportif
Lingkungan kerja memiliki pengaruh besar terhadap sikap pesimis. Jika suasana toxic, penuh kritik, atau minim apresiasi, pesimisme mudah tumbuh. Sebaliknya, lingkungan yang menghargai usaha dan kolaborasi dapat menurunkan kecenderungan sikap pesimis.
Contohnya, tim yang membiasakan apresiasi kecil, berbagi pengalaman dan saling membantu dalam menyelesaikan kesulitan lebih jarang menghadapi sikap pesimis. Budaya kerja yang positif membuat karyawan lebih berani mencoba hal baru dan menghadapi tantangan.
Menghilangkan Sikap Pesimisme Lewat Corporate Training
Dalam corporate training, materi seperti komunikasi asertif, resiliency, dan problem solving dirancang untuk membantu karyawan mengelola pikiran pesimis.
- Pelatihan ini memberikan ruang bagi peserta untuk memahami pikirannya, mempelajari teknik reframing, dan membangun pola pikir yang lebih adaptif.
- Karyawan yang mengikuti pelatihan biasanya menjadi lebih terbuka terhadap tantangan dan tidak mudah patah semangat. Pelatihan semacam ini juga membantu pemimpin memahami dinamika psikologis tim dengan lebih baik.
- Selain itu, corporate training juga membekali perusahaan dengan kerangka intervensi jangka panjang. Misalnya, program coaching dan mentoring dapat diterapkan untuk mendampingi karyawan secara berkelanjutan, memastikan perubahan perilaku tidak hanya terjadi selama pelatihan, tetapi terus berkembang dalam praktik kerja sehari-hari.
- Ketika seluruh lini perusahaan memahami pentingnya mengelola mindset negatif, terciptalah konsistensi dalam proses komunikasi, penyelesaian konflik, dan pengambilan keputusan.
Sikap pesimis tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikelola. Ketika kita memberikan dukungan yang tepat, karyawan pesimis dapat kembali menemukan rasa percaya dirinya. Dengan mendengarkan, memberikan arahan yang jelas, memberikan feedback, serta menciptakan lingkungan kerja positif, kita membantu mereka tumbuh dan kembali produktif.
Pendekatan ini tidak hanya bermanfaat bagi karyawan, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan kolaboratif di dalam perusahaan.
Jika perusahaan ingin meningkatkan kemampuan leadership dalam menghadapi berbagai karakter karyawan, PasarTrainer menyediakan pelatihan yang relevan, seperti Leading Teams for Performance and Growth. Pelatihan leadership & soft skills ini dapt membantu pemimpin memahami dinamika tim, mengelola pesimisme, dan membangun motivasi kerja yang lebih kuat.
Referensi:
positivepsychology.com - optimism pessimismhbr.org - how to manage a pessimist
www.mindtools.com - overcoming negative thinking
www.ccl.org - leading through uncertainty
psychology.ucdavis.edu - the power of mindset